Sebuah Cahaya

Panas terik matahari membungkus kota siang itu. Jalanan ramai di penuhi asap-asap polusi dari berbagai macam kendaraan bermontor. Benar-bernar suasana yang sama sekali tidak menyenangkan. Tapi di tengah itu semua, sebuah suasuana damai,menentramkan hati mulai di bangun. Di surau kecil yang tak jau dari kota……..

            “Wala taqrobu zina……. Dan janganlah kau dekati zina. Ya itulah yang Alloh perintah kan kepada kita semua. Dan jelas sekali disini bahwa kita dilarang berzina, mendekati saja dilarang. Lalu bagaimana dengan berpacaran, yang kini sibuk di gembar-gemborkan para remaja?.” Lemut suara Kak, Tiara terdengar. Ya, siang itu dia sedang mengisi sebuah pengajian remaja di masjidnya. Ia ingin membawa perubahan, menjadi cahaya penerang di tengah-tengah umat yang kian lalai. Tema yang ia bahas sekarang ialah ‘pacaran’, sangat pas degan tren yang sedang menjamur di kotanya. Ia ingin menyadarkan kembali para remaja yang telah terhipnotis akan majunya jaman. Wajah-wajah serius para remaja, syahdu mendengarkan penuturan dari gadis belia ini.

            “Jelas itu adalah perbuatan yang di laknat Alloh. Haram hukumnya, jika dilakukan akan menimbulkan dosa. Tapi sekarang para remaja seakan menganggap dosa itu adalah sebuah perkara yang sepele. Tak takut akan pedihnya api neraka. Yang siksa teringannya saja, bisa membuat otak kita mendidih, lalu bagaimana dengan neraka jahanam. Yang berlipat-lipat lebih kejam dan pedih.” begitu penjelasan dari kak Tiara, membuat semua remaja merinding mendengarnya. Tak sedikit dari mereka yang mulai tersadar.

            “Tapi kak, kalo gak pacaran kita gak nikah donk. Bukanya pacaran itu proses menuju pernikahan” celetuk salah satu remaja lainnya. Tingkah konyol atau pertanyan-pertanyaan konyol sepeti ini memang seringkali terjadi, Tiara mencoba memaklumi, dengan senyuman.

“Loh, siapa bilang pacaran adalah salah satu proses menuju pernikahan. Islam tidak mengenal apa itu pacaran. Bedua-duaan dengan lawan jenis saja sanagat di larang. Bahkan rosululloh pernah mengatakan balasan untuk orang-orang seperti itu, akan di berdirikan di tepi jahanam dan setiap kaliamat yang keluar di catat sebagai 1000 keburukan . Ngeri gak, kalau kita sedang bermaksiat, apa yang kita ucapkan dan lakukan, di hitung menjadi 1000 keburukan, padahal yang kita lakukan tidak sebanyak itu. Rugikan kita. Dan tak takutkah kalian dengan siksa api neraka, yang sebelumnya kakak suadah ulas sedikit tadi. Kejam,pedih dan mengerikan.  Apakah ada diantara kalian yang tertarik untuk menicipi pedihnya neraka?”serempak semua menggeleng. Bergidik takut. Membayagkan saja sudah tak tega, dan bisa buat merinding semua tubuh. Apalagi merasakannya. Iiihhhh… jangan sampe deh…..

“Nah, sudah jelas kan semuanya. Bahwa berpacaran itu haram hukumnya. Jadi, setelah ini kakak tidak mau lagi mendengar diantara kalian masih ada yang pacaran. Apalagi pacarannya sambil nongkrong-nongkrong di jalan” Tiara menegaskan. Sebagian ada yang mengangguk mantap, tapi sebagian juga ada yang mengangguk ragu. Tiara mengerti, ini semua memang tak mudah.

Sebenarnya usia Tiara dengan para remaja peserta pengajian, tidak terlalu jauh. Ia juga masih pelajar SMA, tapi semangatnya untuk terus mensiarkan kebenaran, sudah seperti para ustadzah. Ia mempunyai tekad menyebarkan cahaya untuk membuat kembali para umat dari kegelapan yang telah menyesatkan mereka.

“Jadi, aku harus putusin semua pacar-pacarku donk kak.” Siti bertanya, dia agaknya yang dari tadi keberatan. Belum sempat Tiara membalas Rori sudah berceletuk.

“Heh, Ti. Emangnya lo, punya berapa banyak pacar, sampe harus menyebutkan pacar-pacar.” Rori, menanggapi Siti, ya lebih tepatnya hendak meledek.

“Emhhhh…. Berapa ya. Tak terlalu banyak. Ada Bejo, Joni, Aceng, emmhh sapa lagi ya aku lupa” jelas pernyataan siti barusan mengundang gelak tawa peserta.

“Gak sekalian sama Tukiem…..” sekejap suasana menjadi riuh. Siti manyun, tidak terima. Memangnya ia bencong, pacaran sama Si Tukiem. Tiara berusaha menenangkan, menetralisir suasana agar kembali ke sebelumnya, tenang dan syahdu.

“Sudah-sudah, kasihan siti. Ya, semua itu ada ditangan kalian. Jika kalian tidak mau merasakan kejamnya api nereka, apa susahnya putusin pacar. Tapi jika kalian masih belum sadar juga, malah ada yang mau coba-coba, itu tandanya ia mencintai nereka, tempat ia akan kekal nantinya.”

Kalimat Tiara barusan, membuat semua remaja terdiam, sibuk dengan pikiran mereka, memikirkan sesuatu yang mungkin sama dengan yang lain. Keputuan itu harus di ambil. Penyesalan yang hinggap, memang tak bisa di cegah. Merasuki dada mereka begitu saja, menembus hingga ke hati. Yang nantinya akan di ungkapkan oleh sebuah tindakan.

Pengajian siang itu berakhir, dan mereka pulang kerumah masing-masing, dengan sebuah keputusan yang semoga itulah yang terbaik. Keputusan yang akan membawa merka ke indahnya surga. Walaupun hanya beberapa, yang berani mengambil keputusan seperti itu.

“Baiklah teman-teman. Jangan kita biarkan kaki kita ini menginjak panasnya api nereka, gara-gara pacar. Bagaimanapun caranya kita harus hapus kata pacaran dari kamus hidup kita, jangan kotori hidup kita dengan perbuatan keji itu. Setuju!” Siti yang rupanya telah terilhami, berteriak lantang kepada teman-temannya saat menuju perjalanan pulang. Seruan Siti di sambut kata setuju teman-temannya.

Sesampai di rumah mereka masing-masing. Ada yang langsung menyambar hp-nya, dan menelpon pacarnya untuk mengucapkan kata putus, ada yang langsung buka facebook, ada yang  nyobek ketas, buat surat putus cinta. Dan lain sebagainya tingkah konyol para remaja. Ada yang mutusinnya segampang membalikan telapak tangan, contohnya Siti, ia memang tidak terlalu mencintai pacar-pacarnya yang selalu mloritin dirinya. Dan juga ada yang mengharu-biru saking beratnya,ngucapin kata putus.

Kak Tiara bangga akan sikap yang di pilih para remaja majlisnya. Perubahan-demi perubahan mulai muncul terlihat. Walau semua itu butuh waktu dan pengorbanan yang tentunya tak mudah. Di tengah-tengah semua usaha, dan perjuangannya untuk terus mensyiarkan islam, datang seorang sahabat lamanya, dialah Nurul, lulusan pondok pesaten yang semoga saja bisa membantunya dalam mewujudkan keinginannya. Memeberikan cahaya

“Ukhty, saat ana pulang dan menyelusuri kampung ini. Banyak perubahan yang ana lihat. Ya, setidaknya tak ada lagi para pemuda yang sekedar tongkrongan, pacaran di sudut tempat tertentu. Terimakasih, atas semua risalah yang ukhty sampaikan, atas perubahaan yang luar biasa ini, Atas cahaya yang uhkty beri.” puji Nurul saat mereka tengah berbincang-bincang. Di surau seusai mengisi pengajian rutin.

“Ini semua semata-mata karena Alloh, ana hanya perantara. Tapi tugas ini belum selesai sampai disini. Masih banyak yang harus kita perbaiki.” ucap Tiara sambil sibuk memandangi buku baru yang di belinya kemarin lusa. Ia merasa masih banyak kekurangan di sana-sini.

“Ya, ini tugas kita Ukhty. Oooya….. ada yang mau saya sampaikan. Kemarin teman ikhwan saya, Abdulloh ya boleh di bilang masih terikat saudara dengan saya, tetarik untuk terjun langsung berdakwah di kampung kita. Menurut ukhty bagaimana? Keberatan tidak?” Nurul menyapaikan niatan temannya. Tiara tersenyum, dia memang mudah sekali tersenyum. Menurutnya senyum itu adalah sebuah shodaqoh yang amat simple, tapi berpahala.

“Loh kenapa harus merasa keberatan. Itu justru bagus. Semakin banyak yang menybarkan risalah, bukannya juga semakin banyak nantinya yang akan tercerahkan. Ana setuju. Kapan kiranya dia akan datang?” Tiara senang mendapat berita itu, dia alihkan pandangannya dari bukunya. Ya, hitung-hitung ada tenaga tambahan. Jadi tmbah patner.

“Mungkin besok lusa. Ya, kita tunggu saja” Tiara mengangguk.

“Sudah sore Tiara, mari kita pulang.” Kedua remaja tanggug ini berjalan berjejeran menuju rumah masing-masing yang kebetulan berdekatan.

Tiara sudah tak sabar menunngu hari esok, ia penasaran, terhadap sosok Abdulloh. Seperti apakah dia?

@@@@@@@@@@@@@@@

Sudah satu bulan Abdulloh menetap di desanya. Ternyata ia memang, seorang pemuda yang luar biasa. Berwawasan keilmuan luas. Cara penyampaianya dalam berdakwah, juga amat menyenangkan, santai dan akrab. Peserta pengajian pun juga semakin bertambah. Kini, bukan hanya para remaja saja yang ikut turut mendatangi masjid, tapi juga para ibu-ibu dan anak-anak. Ternyata Abdulloh  itu seorang pribadi yang mecintai anak-anak. Sabar dalam menghadapi tingkah mereka, dan dewasa, ketika berhadapan dengan para ibu. Semenjak kedatangan Abdulloh ke desa ini, semuanya semakin lebih baik. Warga mulai sadar akan kelalai-an mereka selama ini. Benar-benar sosok yang amat mengagumkan.

Satu yang membuat Nurul sampai sekarang belum mengerti. Tiara, semenjak kedatangan Abdulloh, dia tak lagi seperti dulu yang selalu bersemangat dalam menyampaikan risalah, selalu terenyum jika di tanya. Cahaya itu kian hari, makin terlihat meredup, meninggalkan sosok yang periang. Murung, ya kini Tiara benar-benar aneh.sifatnya yang tiba-tiba berubah, suka menyendiri dan beberapa kali Nurul memergokinya sedang menangis. Ia sekarang juga jarang mendatangi masjid, boro-boro ikut mengisi pengajian, melongok saja jarang sekali. Peserta pengajian banyak yang menanyakan dirinya, tapi percuma, Nurul dan Abduloh pun tak tahu.

Saat itu, ada acara khataman, biasanya orang yang paling antusias itu Tiara. Orang yang paling semangat dalam mengurus khtaman, mulai dari konsumsi sampai sound sistemnya. Tapi sekarang, batang hidugnya saja tidak nongol.

Cukup!!. Nurul sepertinya sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Ia harus menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tiara.Ini sudah sangat berlebihan. Sebagai seorang sahabat, tak baik membiarkannya terus seperti ini.

Sore itu, seusai mengisi pengajian bersama Abduloh, Nurul menyempatkan berkunjung ke rumah Tiara. Umminya Tiara menyuruhnya untuk langsung saja menemuainya di kamar. Pintu kamar Tiara tak terkunci, Nurul langsung nylonong masuk, ya rumah Tiara memang sudah seperti rumahnya sendiri. Di ihatnya sesosok tubuh, berbaju kurung dengan kerudung biru, membelakanginya, sepertinnya sosok itu belum menyadari kehadiarannya. Sibuk Dengan lamunan sendiri.

“Tiara…” suara Nurul benar-benar membuat Tiara tersentak. Cepat ia menghapus air matanya. ”sebenarnya apa yang terjadi? Kau kenapa?” Nurul bertanya selembut mungkin Tapi Tiara hanya menjawab dengan gelengan kepala, pandangannya lurus ke depan, menatap ke luar jendela.

“Aakhir-akhir ini kau jarang sekali pergi ke surau, ya sekedar untuk menengok keadaan saja. Kemana senyuman itu, wajah ceria penuh cayaha, kenapa tiba-tiba semua itu menghilang” Nurul mengluarkan ketidak mengertiannya dengan semua ini.

“Tidak ada apa-apa ukhty….  Tidak usah khawtir” jawaban Tiara membuat Nurul geregetan

“Apanya yang tidak ada apa-apa. Jelas aku khawatir, tiba-tiba kau berubah, tak pernah lagi mendatangi surau, Tiara yang tiba-tiba suka menyendiri,melamun dan menangis. Kau bilang itu tidak ada apa-apa. Semua orang yang datang ke surau selalu menanyakn dirimu, juga Abdulloh…” kalimat itu sempat terputus, sebab ada yang aneh ketika Nurul menyebutkan nama itu. Air mata Tiara kembali menetes, Nurul seakan tidak mengerti. Tapi Tunggu, sepertiya ia mulai menyadari sesuatu. Dugaannya selama ini jangan-jangan benar.

“Sebentar…, semua ini terjadi setelah kedatangan Abdulloh. Apakah ini….ada hubunganya dengan abdulloh, apakah semua ini terjadi karena dia… “ Nurul mencoba membuat semuanya terang. Tiara semakin terisak, dan tiba-tiba saja ia berbalik dan memeluk Nurul, Isaknya semakin terdengar tertahanan. Seperti ada sebuah gejolak di hatinya, yang tak bisa ia ungkapkan. Nurul kini mengerti sudah..

“Istighfar ukhti…..” Nurul menoba menenangkan.

“Aku nda tahu, kenapa semua ini terjadi. Rasa itu tumbuh begitu saja, tanpa bisa ku cegah. Melihat wajahnya senyumannya, mendengar suaranya yang khas. Itu sungguh menyiksa ukhty. Ana sebenarnya tidak mau semua ini terjadi” jelas sudah semua. Tuturan tiara yang penuh isak itu telah membuat masalah ini terang benderang. Nurul, mengerti tentang apa yang di rasakan sahabatnya. Sebuah perasan yang sulit bahkan mungkin tak akan pernah tersampaikan, dan hanya di pendam dalam diri sendiri, itu menyakitkan.

“Ukhty, ana mengerti, tapi tidak seharusnya ukhty seperti ini. Istighfar, sebaiknya ukhty segera melupakan persaan itu. Jangan di biarkan tumbuh mekar lebih lama, karena ini bukan waktunya.  Jangan karena masalah cinta, ukhty menjadi kehilangan semangat hidup, kehilangan semangat berdakwah”Nurul mencoba, kembali menghidukan semangatnya, mengigatkan dari kelaaiannya.

“Tapi itu sulit, Nurul. Aku telah gagal.”

“Ukhty pasti bisa. Percayalah. Ingat Alloh selalu. Surga, neraka dan firman-NYA. Wala taqrobul zina. Ini sudah termasuk zina hati ukhty, masih ingatkan materi yang ukhty sampaikn kepada Siti dan kawan-kawan.” Tiara benar-benar teisak. Ia menyesal, apa yang telah ia lakukan ya Alloh, rasa bersalah itu menyelimuti hati Tiara. Bukankah ia yang telah membawa pebaikan di desa ini, tapi sekarang ia malah ikut berubah namun bukan kepada ke baikan. Ya, Alloh. Berbicara itu memang lebih mudah dari pada mengungkapkan nya dalam tingkah nyata.

“Astghfirullohal ‘adzim, ya Alloh maaf kan hambamu yang lalai ini. Lindungilah kami dari bisikan setan laknatulloh…..” Tiara menyadari, ini salah dan menyimpang. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Marah, pada semua tingkah konyolnya akhir-akhir ini. Bingung kenapa dirinya tiba-tiba bisa mempunyai mindset seperti itu. Lagi-lagi setan telah berhasil melabui hatinya. Tertahlukan oleh musuh yang amat ia laknat. Tapi kini, cahaya itu telah kembali datang menghampirinya. Membuat sirna dari semua kegelapan yang hinggap.

“Ukhty, aku merasa gagal. Aku malu, apakah aku masih pantas untuk mengemban amanah itu, apakah aku masih pantas memberikan cahaya risalah islam?, Dan apakah masih ada kesempatan, ruang untuk diriku membayar semua ke konyolan ini.” Tiara merasa tak ada lagi ruang untuknya, ia benar-beanar merasa telah membuat semua orang kecewa padanya.

“Pasti Kak. Selalu ada ruang dan kesempatan. Bahkan lebih dari pantas Kak.” tiba-tiba muncul sebuah suara, sesosok tubuh itu menyembul dari balik pintu. Siti, ya itulah sumber suara yang tadi menggema. Murid yang dulunya paling bandel, dan urakan. Kini lihatlah sosoknya, dengan balutan baju kurung dan kerudung merah yang menghiasi semua keistemewaanya.

“Kami, semua merindukan Kakak. Rindu akan senyuman indah, dan penyampaian yang berhasil masuk merogoh hati. Kami semua benar-benar rindu, akan cahaya yang Kakak beri.” kehadiaran dirinya membuat kaget Tiara dan  juga Nurul. Sejak kapan gadis itu ada disini. Butiran mutira kecil juga mulai terlihat menggenang di kedua kelopak mata gadis cantik ini.

“Siti….” Tiara menyebut nama itu, lirih dan juga di penuhi rasa rindu. Ia rindu mengucapkan nama itu. Gadis, yang baru di panggilnya langsung menghambur memeluk dirinya.  Isak tangis pecah tak tertahankan. “Kakak juga rindu. Kakak juga rindu sama siti, dan juga anak-anak pengajian  lainnya. Maafkan Kakak……,” Siti terisak mendengar perkataan Kak Tiara, Peluan itu terasa semakin erat. Bukti akan rindu yang membuncah. Nurul terlihat mengusap matanya. Adegan ini terlihat cukup mengharukan.

“Tanpa di minta pun, maaf itu telah ada kak.” Kali ini bukan suara Siti yang menyahut juga bukan Nurul, melainkan suara lainnya. Dan, Ooo, betapa kagetnya ketika ambang pintu kamarnyanya telah di penuhi oleh para remaja masjidnya. Dan itu semakin membuat dirinya diselimuti rasa haru. Ini benar-benar sebuah kejutan. Ia baru mulai menyadari arti penting dirinya bagi mereka semua. Dan rasa penyesalan itu sungguh amat terlambat. “Maafkan kakak…….”

“Kami semua menunggu kehadiran kakak…..” Tiara mengangguk, wajahnya yang sendari tadi basah oleh air mata, kini mulai mencoba menyunggingkan senyuman, yang lama telah ia simpan. Umat masih membutuhkannya. Ia harus terus berdiri. Tak akan biaran setan itu kembali memasuki hatinya. Mengotori semua relung miliknya.

Tentang Abdulloh, Tiara yakin seiring berjalannya waktu pasti ia akan bisa melupakan sosoknya. Dan kabar baik untuk Tiara, kini Abdulloh telah berhijrah ke Cairo, dikarenakan tuntutan studi. Itu bisa membuat Tiara lebih mudah untuk melupakannya.

Kini  ia siap, hadir kembali di tengah umat dengan sebuah cahaya yang siap untuk ia syiarkan. Segenap penyesalan yang membuatnya lebih menata diri. Menginstropeksi semua yang telah terjadi, memperbaiki sikap yang pernah tenggelam. Kembali pancarkan cahaya, yang dulu meredup.

 

Sebuah Cerpen, karya : Santri SMPIT Logaritma Karanganyar angkatan II